Forum PialaEropa
- Les Bleus Perancis... naferyo
- TimNas Holland... DoniAlfauzi
- JERMAN ... Tim AtraktiF !... falkemann
- Siapa Pemain di piala ero... lelaki
- JERMAN ... Tim AtraktiF !... falkemann
- TIMNAS SPANYOL: La Furia ... mifakinglis
Berita Lain
- 29/07/2008 18:15 WIB
Helat Euro 2008, UEFA Raih Profit Rp 3,6 Triliun - 23/07/2008 23:24 WIB
Emre Tambah Kekuatan Fenerbahce
Indeks Berita
Jumat, 04/07/2008 20:42 WIB
Tidak Perlu Great Man untuk Jadi Besar
Meliyanti Setyorini - detikSport

AFP/Bertrand Guay
Jakarta -
Setelah menunggu selama 44 tahun, Spanyol berhasil merengkuh gelar juara turnamen besar keduanya di Euro 2008. Sebuah pencapaian hebat yang tidak memerlukan kontribusi dari Orang Besar.
Orang Besar alias Great Man yang dimaksud tidak lain adalah Raul Gonzalez. Kapten Real Madrid itu sampai sekarang masih tercatat sebagai pemain tersubur di timnas Spanyol. Total 44 gol telah dicetak Raul untuk La Furia Roja dalam 102 penampilan. Di tingkat klub, Raul lebih gemilang. Hampir seumur hidup mengabdi untuk Madrid, sudah tiga tropi Liga Champions, enam gelar La Liga, dua Piala Intercontinental diraihnya.
Itu belum ditambah dua gelar top skorer La Liga dan top skor Liga Champions sepanjang masa. Kalau ditilik dari rekornya, tidak salah jika sebutan pemain besar Spanyol disematkan untuk pria kelahiran 27 Juni 1977 itu.
Sayang, prestasi pribadi Raul tak berbanding lurus dengan kontribusinya terhadap timnas. Betapa tidak, sejak memulai debutnya tahun 2000, prestasi terbaik Spanyol era Raul “hanya” perempatfinal Euro 2000 dan Piala Dunia 2002. Walau gonta-ganti pelatih, "Tim Matador" tidak pernah bisa berpaling dari Raul.
Luis Aragones adalah pengecualian. Mengambil alih Iker Casillas cs seusai Euro 2004, pelatih berjuluk “Si Bijak dari Hortalenza” itu mengejutkan publik dengan keputusannya meninggalkan Raul dari daftar skuadnya di Euro 2008. Piala Dunia 2006 pun menjadi kiprah terakhir pemain bernomor punggung 7 itu di perhelatan besar.
Menurut rumor yang beredar, keputusan Aragones dipicu oleh sentimen pribadinya terhadap Raul. Aragones tidak menjawab rumor tersebut dengan
kata-kata melainkan tindakan. Sebelum digelar Euro 2008, media-media Spanyol memberitakan pertemuan Aragones dengan Raul. Pasca pertemuan itu Raul memang tetap tidak masuk skuad, tapi rumor perselisihan jelas tidak valid lagi.
Bisa jadi ketika itu Aragones cuma meminta pengertian striker 31 tahun itu atas pilihannya mempercayakan pemain-pemain muda seperti Fernando
Torres, David Villa dan Dani Guiza sebagai ujung tombak Spanyol. Pilihan yang di kemudian hari terbukti sangat tepat.
Ketiga penyerang pilihan pria 69 tahun itu tampil gemilang di Euro 2008. Villa menjadi top skor turnamen di Austria-Swiss itu, Torres mencetak gol kemenangan di final melawan Jerman, sementara Guiza mencatat dua gol atas namanya. Aragones membuktikan tidak selalu perlu Orang Besar untuk membuat tim menjadi besar.
Nasib Spanyol di Euro 2008 hampir mirip dengan Italia di Piala Dunia 2006. Tanpa Paolo Maldini, mantan kapten sekaligus pemain besar Azzurri, Gianluigi Buffon cs sukses menjadi jawara. Maldini, peraih lima tropi Liga Champions tujuh Scudetto itu, harus puas mengecap runner-up pada dua kesempatan perhelatan besar yakni Piala Dunia 1994 dan Euro 2000.
Sepakbola memang tidak pernah bisa ditebak. Walau tanpa prestasi juara di timnas, Raul akan tetap dikenang sebagai pemain besar negaranya. Sebaliknya, tanpa Raul, kesempatan Spanyol untuk menjadi penguasa jagad sepakbola terbuka lebar. Masa depan yang cerah ada di depan mata pemain-pemain muda ini.
( mel / roz )
Tidak Perlu Great Man untuk Jadi Besar
Meliyanti Setyorini - detikSport

AFP/Bertrand Guay
Orang Besar alias Great Man yang dimaksud tidak lain adalah Raul Gonzalez. Kapten Real Madrid itu sampai sekarang masih tercatat sebagai pemain tersubur di timnas Spanyol. Total 44 gol telah dicetak Raul untuk La Furia Roja dalam 102 penampilan. Di tingkat klub, Raul lebih gemilang. Hampir seumur hidup mengabdi untuk Madrid, sudah tiga tropi Liga Champions, enam gelar La Liga, dua Piala Intercontinental diraihnya.
Itu belum ditambah dua gelar top skorer La Liga dan top skor Liga Champions sepanjang masa. Kalau ditilik dari rekornya, tidak salah jika sebutan pemain besar Spanyol disematkan untuk pria kelahiran 27 Juni 1977 itu.
Sayang, prestasi pribadi Raul tak berbanding lurus dengan kontribusinya terhadap timnas. Betapa tidak, sejak memulai debutnya tahun 2000, prestasi terbaik Spanyol era Raul “hanya” perempatfinal Euro 2000 dan Piala Dunia 2002. Walau gonta-ganti pelatih, "Tim Matador" tidak pernah bisa berpaling dari Raul.
Luis Aragones adalah pengecualian. Mengambil alih Iker Casillas cs seusai Euro 2004, pelatih berjuluk “Si Bijak dari Hortalenza” itu mengejutkan publik dengan keputusannya meninggalkan Raul dari daftar skuadnya di Euro 2008. Piala Dunia 2006 pun menjadi kiprah terakhir pemain bernomor punggung 7 itu di perhelatan besar.
Menurut rumor yang beredar, keputusan Aragones dipicu oleh sentimen pribadinya terhadap Raul. Aragones tidak menjawab rumor tersebut dengan
kata-kata melainkan tindakan. Sebelum digelar Euro 2008, media-media Spanyol memberitakan pertemuan Aragones dengan Raul. Pasca pertemuan itu Raul memang tetap tidak masuk skuad, tapi rumor perselisihan jelas tidak valid lagi.
Bisa jadi ketika itu Aragones cuma meminta pengertian striker 31 tahun itu atas pilihannya mempercayakan pemain-pemain muda seperti Fernando
Torres, David Villa dan Dani Guiza sebagai ujung tombak Spanyol. Pilihan yang di kemudian hari terbukti sangat tepat.
Ketiga penyerang pilihan pria 69 tahun itu tampil gemilang di Euro 2008. Villa menjadi top skor turnamen di Austria-Swiss itu, Torres mencetak gol kemenangan di final melawan Jerman, sementara Guiza mencatat dua gol atas namanya. Aragones membuktikan tidak selalu perlu Orang Besar untuk membuat tim menjadi besar.
Nasib Spanyol di Euro 2008 hampir mirip dengan Italia di Piala Dunia 2006. Tanpa Paolo Maldini, mantan kapten sekaligus pemain besar Azzurri, Gianluigi Buffon cs sukses menjadi jawara. Maldini, peraih lima tropi Liga Champions tujuh Scudetto itu, harus puas mengecap runner-up pada dua kesempatan perhelatan besar yakni Piala Dunia 1994 dan Euro 2000.
Sepakbola memang tidak pernah bisa ditebak. Walau tanpa prestasi juara di timnas, Raul akan tetap dikenang sebagai pemain besar negaranya. Sebaliknya, tanpa Raul, kesempatan Spanyol untuk menjadi penguasa jagad sepakbola terbuka lebar. Masa depan yang cerah ada di depan mata pemain-pemain muda ini.
( mel / roz )


